Gong Xi Fa Cai 2572, Kerbau Logam

Oleh : M. Dwi Cahyono


Lirik Lagu Imlek (Gong Xi Fa Cai) dalam Bahasa Mandarin *

每条大街小巷

Mei tiao da jie xiao xiang..

每个人的嘴里  Mei ge ren di zui li.. 见面第一句话  Jian mian di yi ju hua.. 就是恭喜恭喜

Jiu shi gong xi gong xi..

恭喜恭喜恭喜你呀  Gong xi gong xi gong xi ni ya.. 恭喜恭喜恭喜你

Gong xi gong xi gong xi ni..

冬天已到尽头

Dong tian yi dao jing tou..

真是好的消息  Zhen shi hao di xiao xi.. 温暖的春风

Wen nuan di chun feng..

就要吹醒大地

Jiu yao chui xing da di..

恭喜恭喜恭喜你呀

Gong xi gong xi gong xi ni ya..

恭喜恭喜恭喜你

Gong xi gong xi gong xi ni..

浩浩冰雪融解

Hao hao bing xue rong jie..

眼看梅花吐蕊  Yan kan mei hua tu rui.. 漫漫长夜过去

Man man chang ye guo qu..

听到一声鸡啼  Ting dao yi shen ji ti.. 恭喜恭喜恭喜你呀

Gong xi gong xi gong xi ni ya..

恭喜恭喜恭喜你

Gong xi gong xi gong xi ni..

经过多少困难

Jing guo duo shao kun nan..

历经多少磨练

li jing duo shao mo lian..

多少心儿盼望

Duo shao xin er pan wang..

盼望春的消息

Pan wang chun de xiao xi..

恭喜恭喜恭喜你呀  Gong xi gong xi gong xi ni ya.. 恭喜恭喜恭喜你

Gong xi gong xi gong xi ni..

(Lirik Lagu “Gong Xi Fa Cai”, Bahasa Mandarin)

A. Latar Penamaan “Kue Keranjang”

Nama “keranjang” diberikan kepada sajian kue khas ketikan perayaan Imlek, lantaran proses pembuatannya dicetak pada wadah berbentuk keranjang. Sebutan lainnya adalah “Kue Bakul, Dodol China, atau kue manis”.

Disebut dengan “Dodol Cina” karena bahan dasarnya tepung ketan dan gula, sehingga memiliki tekstur yang kenyal dan lengket, berwarna cokelat —— seperti tekstur dan warna khas dari apa yang di dalam istilah lokal
dinamai “Jenang Dodol”. Adapun disebut dengan “kue manis”, sebab mempunyai cita rasa yang manis.

Istilah Mandarin untuk kue keranjang adalah “nian gao ( 年 糕 )”, yang dalam dialek Hokkian disebut dengan “ti kwe (甜棵)”. Kata ” 粘 (nián) berarti “lengket”, dan memiliki pelafalan yang sama dengan kata “年” yang berarti : tahun. Adapun kata “糕 (gāo)” berarti : kue, dan memiliki pelafalan yang sama dengan kata “高”, yang berarti : tinggi.

Sebutannya dengan “nian gao (kue lengket)” sesuai dengan tekstur kue ini, yang lengket sebagaimana lazimnya jenang, karena dibuat dari tepung ketan, gula merah Bahan baku kue keranjang relatif sedikit yaitu tepung beras, gula merah dan minyak sayur. Secara harafiah, sebutan “nian gao” berarti pula : kue tahunan. Dinamai demikian, karena kue manis ini hanya dibuat satu tahun sekali, tatkala tiba hari raya Imlek.

B. Kehadiran dan Pemanfaatan Kue Keranjang

Bersama dengan kue ku (kue cikal), lapis legit, wajik, manisan segi delapan, tang yuang, dan kue mangkok, dirasakan ada yang kurang bila ketika merayakan Imlek tidak menghadirkan kue keranjang (nian gao). Kue-kue tersebut merupakan jajan pelengkap dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Selain itu ada penganan lain yang juga acapkali dihadirkan pada perayaan Imlek, seperti yusheng, mie goreng (shiu mie), Ikan bandeng, ayam atau bebek, jiaozi (kuotie), sup delapan bentuk daging babi, telur direbus dengan teh, jeruk Mandarin, manisan dan kue kering, dan lumpia goreng.

Imlek identik dengan penyajian kue keranjang, yang senantiasa disajikan pada saat perayaan Imlek. Kue keranjang menjadi kue wajib tatkala perayaan Imlek. Oleh sebab itu kebutuhan akan kue keranjang makin banyak mendekati tahun baru Imlek. Kue ini dibuat hanya menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, yang biasa digunakan untuk persembayangan kepada leluhur oleh warga etnik Tionghoa di Indonesia. Menyantap dan membagikan kue keranjang ketika perayaan Imlek menjadi tradisi turun-temurun, diwariskan oleh leluhur orang-orang Tionghoa.

Kue keranjang mulai digunakan sebagai sesaji (offering) pada persembahyangan leluhur, yak- ni pada sepekan (tujuh hari) jelang tahun baru Imlek ( 廿 四 送 尫 Ji Si Sang Ang). Pada awalnya kue keranjang itu ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku ( 竈 君 公 Cau Kun Kong) agar membawa laporan yang menyenangkan kepada raja Surga ( 玉 皇 上 帝 Giok Hong Siang Te). Puncaknya adalah pada malam hari
menjelang tiba ahun baru Imlek. Sebagai sesajian, kue keranjang biasanya tak dimakan sampai datang waktu Cap Go Meh, yakni malam ke-15 setelah tahun baru Imlek.

Kue Keranjang Universitas Brawijaya
Photo by nibble.id

C. Latar Mitologi Sajian Kue Keranjang

1. Raksasa Nian VS Pembuat Kue Gao

Unsur nama “nian” dalam sebutan “nian gao” menurut mitologi Cina Kuno adalah raksasa yang tinggal pada sebuah gua di gunung. Dirinya keluar untuk berburu ketika ketika lapar. Pada saat tiba musim dingin, banyak hewan berhibernasi, yang dimanfaatkan Nian turun dengan ke desa-desa guna mencari korban untuk disantapnya. Selama puluhan tahun warga desa takut dengan nian, hingga pada akhirnya ada seseorang warga desa bernama “Gao” yang memiliki akal untuk membuat beberapa kue sedehana dari dari tepung ketan dan gula, kemudian diletakkan di depan pintu untuk disuguhkan kepada Nian.

Ketika Nian mencari mangsa, ia melihat kue keranjang di depan rumah dan me- makannya hingga kenyang. Rasanya kue yang manis itu mudah mengenyangkannya. Setelah kenyang menyantapnya, lantas Nian kembali ke gua meninggalkan desa. Sejak saat itu penduduk desa membuat kue keranjang di setiap musim dingin untuk mencegah Nian memburu dan memangsa manusia ataupun binatang ternak. Terjadilah alih bentuk dari pengorbanan binatang (animal sacrifice) menjadi pengorbanan makanan (culinary sacrifice). Sejak itu, kue keranjang dijadikan sebagai sajian (offering) buat raksana Nian. Nama raksasa “Nian” dan orang yang memprakarsai membuat kue (yakni “Gao”) dipadukan menjadi “Nian Gao” untuk menamai kue persajian itu.

Setiap hari raya Imlek, yang di daratan Cina jatuh bersamaan waktu dengan tibanya musim dingin —— waktu yang dalam mitologi itu menjadi saat tepat bagi raksasa nian mencari mangsa, kue nian gao (istilah Mandarin buat “kue keranjang”) ditradisikan sebagai jajanan persajian buat leluhur. Tergambarlah bahwa kue nian gao hadir pada Hari Raya Imlek didasari oleh mitologi Cina kuno yang berkenaan dengan raksana nian dan pemrakarsa pembuat kue keranjang bernama Gao.

Dari sudut tinjauan gastronomi budaya, kue yang berbahan ketan, berasa manis, bahkan mampu bertahan lama untuk layak santap ini dijadikan sebagai “cadangan makanan” pada musim dingin. Apabila jumlahnya berlebihan, maka sebagian dibagikan kepada orang lain. Kalaupun sudah berjamur, kue keranjang bisa di makan, tinggallah membuang jamur yang menempel, dan malahan rasanya lebih enak. Pada sistem penanggalan lunar yang dianut di China, awal tahun selalu berbarengan dengan akhir musim dingin dan permulaan musim semi. Para petani zaman dulu menjadikan Imlek sebagai cikal bakal “Festival Musim Semi” yang berlangsung di awal tahun.

2. Sesajian Buat Dewa Tungku

Mitologi itu bukan satu-satunya cerita yang melatari kehadiran kue keranjang pada hari raya Imlek. Ada kisah lain yang menyatakan bahwa pada awalnya kue keranjang adalah hidangan yang disajikan untuk menyenangkan Dewa Tungku (Cau Kun Kong) agar memberi kabar baik dan menyenangkan saja pada Raja Surga (Giok Hong Siang Te). Legenda lainnya berkenaan dengan sejarah perang Cina Kuno.

3. Cadangan Makanan Kala Perang

Pada legenda itu dinyatakan bahwasanya kue keranjang berasal dari daerah Suzhou, dan telah ada sejak sekitar 2.500 tahun silam. Kala itu China masih terpecah-pecah menjadi beberapa kerajaan, yang sewajtu-waktu perang bisa berlangsung. Suzhou adalah Ibu Kota Kerajaan Wu, yang dilindungi dengan benteng kokoh dari serangan musuh. Semua orang cemas akan kemungkinan perang, kecuali Perdana Menteri Wu Zixu. Ia berkata kepada para pengawalnya, “Perang tidak bisa dianggap remeh. Tembok yang kokoh memang melindungi kita. Namun bila musuh mengepung kerajaan kita, tembok juga menjadi penghalang untuk melarikan diri atau mencari makanan. Apabila kelak sesuatu yang buruk terjadi, ingatlah untuk menggali lubang di bawah tembok itu.”

Beberapa tahun kemudian, setelah kematian Wu Zixu, perkataannya menjadi kenyataan. Ba- nyak orang mati kelaparan karena kehabisan pasokan pangan tatkala ibukota kerajaan Wu dikepung oleh musuh. Para pengawal kerajaan lantas teringat pesan dari Zixu untuk menggali tanah di bawah tembok benteng. Mereka terkejut ketika menemukan dinding benteng di bagian bawah dibangun dengan menggunakan bata yang dibuat dari tepung ketan dan gula. Makanan inilah yang memyelamatkan banyak nyawa dari kelaparan. “Bata” itu disebut-sebut sebagai asal muasal dari nian gao. Sejak itu orang mulai membuat nian gao tiap tahun untuk memperingati jasa Wu Zixu. Lama- kelamaan kue ini menjadi kudapan umum dan lazim disajikan ketika tahun baru.

Menurut riwayat, kue nian gao dimulai sekitar seribu tahun lalu, pada masa pemerintahan Dinasti Liao (907–1125). Kala itu, orang-orang di Beijing punya kebiasaan memakan kue pada tahun baru. Ketika inilah kebiasaan membuat kue keranjang mulai menjadi tradisi. Selanjutnya, pada masa Dinasti Ming (1368–1644) kue keranjang mulai menjadi kudapan buat umum rakyat. Hal itu terus berlangsung hingga kini. Kue ini bisa tahan hingga satu tahun. Pada tahun baru orang-orang menyimpan kue keranjang untuk kemudian dinikmati sewaktu-waktu pada masa mendatang.

D. Kandungan Makna Kue Keranjang

Kue karanjang yang berbentuk bulat bermakna keluarga yang merayakan Imlek diharap dapat terus bersatu, rukun dan berbulat tekad untuk menghadapi tahun yang akan datang. Bentuk yang membulat tanpa ujung mensimbolkan keterikatan tanpa batas. Adapun maknanya dalam hubungan dengan kehidupan keluarga adalah selalu bersama, tanpa batas waktu, sehingga tercipta kerukunan dalam hidup dan siap dalam menghadapi hari depan. Terlebih Tahun Baru Imlek adalah momen berkumpul keluarga, sehingga makna dari kue keranjang memberi spirit untuk menjaga kerukunan hidup berkeluarga.

Kue keranjang yang biasa dibagi-bagikan tatkala perayaan Imlek melambangkan rezeki dan kemakmuran, dengan harapan mendapatkan berkah dan kemakmuran di sepanjang tahun. Berkah kemakmuran itu bukan hanya bagi diri sendiri, namun juga dikontribusikan kepada orang lain untuk membahagiakan sesama sebagai pengowantahan akan pembagian nilai-nilai positif. Terkandung pula nilai di dalam pembagian kue keranjang tersebut sikap saling menolong.

Teksturnya yang lembut dan kenyal itu meng- gambarkan keuletan, kegigihan, dan daya juang yang tinggi. Selain itu, sifat lengket bermakna persaudaraan yang erat dan menyatu. Sifat lain dari kue keranjang adalah mampu bertahan lama, yang mensimbolkan relasi yang awet dan berkualitas. Dalam hubungan kekeluargaan, sifatnya yang bertahan lama mensimbolkan hubungan abadi meski zaman berubah.

Rasa manisnya bermakna suka cita atau kegembiraan di dalam hidup untuk menikmati keberkatan, serta kesediaan untuk memberikan yang terbaik dalam hidup. Kebaikan itu bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun juga bagi sesama. Kue manis ini sering disusun berting- kat, makin ke atas makin kecil, yang bermakna peningkatan rezeki atau kemakmuran di dalan keluarga pada jelang tahun baru.

Proses pembuatan kue keranjang yang memakan waktu lama (11 sd.12 jam) bermakna rasa sabar, kegigihan, keuletan, daya juang, keteguhan hati, dan cita-cita untuk merah tujuan hidup, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan terbaik. Proses pembuatannys membutuhkan pikiran bersih, jernih, dan konsentrasi. Untuk bisa mendapatkan kue keranjang yang berasa enak dan bertekstur sempurna, musti disertai dengan kebersihan hati dari prasangka buruk. Jika prasarat itu dilanggar kemungkinan kue yang dibuat tidak akan sempurna, yakni jadi lembek dan pucat. Makna yang terkandung di dalamnya adalah hendaknya berpikir positif, dengan cara membersihkan hati dari prasangka yang buruk. Selain itu kue keranjang yang punya daya tahan lama tersebut mensimbolkan kesetiaan.

Demikianlah ulasan ringkas mengenai kisah dan makna di balik kehagiran senantiasa kue keranjang (nian gao) pada perayaan Hari Raya Imlek. Semoga memberikan kefaedahan. Gong Xi Fa Cai bagi sedulur-sedulur Tionghoa yang merayakan Imlek 2572. Nuwun.

Sangkaling, 12 Februari 2021 Griyajar CITRALEKHA

This entry was posted in Tak Berkategori. Bookmark the permalink.